“TETAPI, SUATU PROFESIKAH PELAYANAN KEPENDETAAN ?”

Beberapa orang akan menentang dua asumsi ini, yang paling naif percaya bahwa berhubung pendeta beritikad baik, persoalan seputar etika akan beres dengan sendirinya. Sedangkan yang lain akan berpendapat bahwa “profesional” akan merendahkan pelayanan kependetaan karena pelayanan pastoral merupakan upaya yang begitu unik sehingga tidaklah cocok ketika ia dikategorikan “profesi”.

Profesional memang merupakan kata yang bermakna ganda, Edward Farley dalam bukunya Theologia, The Fragmentation and Unity of Theological Education membahwa bahwa ilmu pendidikan teologi sekarang terpenggal-pengal, ditemukan bahwa studi ilmu teologi berarti “pelajaran kesalehan”, suatu pertumbuhan kebijaksanaan dalam iman, yakni suatu pengetahuan yang menyangkut sastra kebijaksanaan dan personal. Saat ini pendidikan teologi mencakup studi dalam disiplin-disiplin yang begitu terspesialisasikan dan merupakan suatu akumulasi keterampilan profesional yang merupakan suatu model pelayanan kependetaan yang dipahami sebagai suatu perangkat peran-peran kependetaan (bandingkan dengan “jebakan” yang membawa seorang sarjana teologi hanya menguasai skill/pengetahuan tentang pastoral tetapi tidak memiliki kesalehan hidup dan pertumbuhan kebijaksanaan dalam iman).

Tanggapan terhadap pendapat Edward Farley, jika kependetaan adalah sebuah profesi, dan jika pemahaman Farley tentang pelayanan kependetaan  adalah benar, maka pendidikan paling kaya dan bijak untuk itu ialah apa yang disebut sebagai “pelajaran kesalehan”, pengetahuan yang menyangkut sastra kebijaksanaan dan personal ketimbang keterampilan dalam konseling pastoral, administrasi dan homilletik.

Profesional yang dalam arti kata sesungguhnya adalah “mengakui” (“professing) seringkali di konotasikan, memang terkadang  bisa dipahami sebagai upaya untuk meraik kekuasaan. Istilah profesional  merupakan istilah yang dipakai demi kemudahan linguistik dan sosiologis. Secara khas seorang profesional adalah anggota suatu kelompok praktisi yang memiliki ambang permulaan pendidikan dan latihan yang disetujui bersama, yang memelihara standar untuk masuk ke dalamny dan standar etik minimal di dalam praktik, serta yang dianggap melayani tujuan-tujuan yang melampaui keppentingan diri sendiri. Ketiga profesional “terpelajar” secara tradisional adalah di bidang: hukum, kedokteran, dan kependetaan. Dengan adanya modernisasi dan pekerjaan khusus yang semakin luas maka jumlah “profesi” pun semakin bertambah. Seraya mengingatkan agar kita tidak menipu diri serta memegang keyakinan-keyakinan Kristen ihwal penghormatan yang harus diberikan kepada setiap orang dan setiap pekerjaan manakalah ditempuh dengan rasa tanggung jawab, maka kiranya kita tidak perlu terlalu memasalahkan perluasan pemakaian istilah khusus profesional ini. Etimologi  istilah profesional berkembang dari akar kata Latin yang berkaitan dengan deklarasi publik, pra fateri. Pemakaian awal yang paling umum terkait dengan pembuatan sebuah janji atau kaul (vow), misalnya oleh para biarawan kala memasuki ordo tertentu. Hal tersebut tidaklah terlalu menuntut akan pengetahuan atau keterampilan melainkan sebuah profesi sebagai sebuah komitmen. Secara kultural, profesi-profesi modern dapat ditelusuri kembali  ke sejarah Abad Pertengahan yang terkait dengan soal kependetaan dan keimaman.

Alasan mengapa profesional memperoleh konotasi negatif sebetulnya lebih disebabkan oleh pandangan Bernard Shaw ketimbang oleh etimologi. Profesional sekarang bisa dipakai sebagai istilah peremehan. Kamus The New Century Dictionary (diterbitkan tahun 1934) menguti pemakaian tersebut sebai berikut: “Melakukan bisnis atau perdagangan sesuatu yang tidak semestinya dipandan selaku bisnis (misalnya sebagai politikus profesional; kecantikan profesional)”. Profesional jadinya kehilangan banyak makna komitmen pada nilai dan pelayanan. Dalam perkembangannya kata itu pun lebih berkaitan dengan soal keahlian ketimbang dengan deklarasi publik ihwal maksud-maksud tanpa pamrih.

Namun, istilah profesional bukannya tidak punya arti jikalau diterapkan pada nilai-nilai dan tanggung jawab pribadi. Pertimbangkanlah istilah ini dibandingkan dengan istilah teknikus dalam tabel di bawah ini:

KATEGORI

PROFESIONAL

TEKNIKUS

LINGKUP PERHATIAN

Luas

Sempit

OTORITAS

Disiplin diri

Dipimpin oleh seorang atasan

RENTANG INFORMASI

Mengintegrasikan informasi untuk mengambil keputusan

Mengikuti buku pedoman

OBJEK PERHATIAN

Person-person, nilai-nilai pribadi

Benda-benda, material

Jelaslah beberapa orang pengacara, dokter, arsitek, pendeta, pengajar dan lainnya cenderung menunaikan pekerjaan mereka agar menyerupai teknikus (para teknisi laboratorium, resepsionis, mekanik). Hal ini disebabkan oleh gaya pekerjaan mereka sendiri serta karakter pribadi.

Ditinjau secara sosiologis, pelayanan kependetaan memang memenuhi kualifikasi sebagai profesi. Orang-orang yang menolak pemakaian istilah tersebut bagi pendeta sesungguhnya mengungkapkan satu pokok teologis. Salah satu alasan salah kaprah yang diajukan beberapa orang terhadap “profesionalisme” jabatan pendeta berasal dari perasaan pendeta bukanlah seorang institusional.

Pemakaiian kata-kata profesi dan profesional yang paling kaya ternyata lebih berkaitan dengan soal karakter pribadi seseorang ketimbang dengan keterampilan suatu kinerja/kriteria. Yang asasi ketimbang kriteria-kriteria lainnya, individu itu harus memperagakan ragam kebebasan personal yang berpangkal dari pengetahuan siapakah dirinya itu, dan bahwa ia seseorang yang mengakui jati dirinya sendiri. Ia akan merasa bebas untuk menjadi seseorang sesuai dengan jati dirinya sendiri, mampu menegaskan kekuatan-kekuatannya serta mengakui keterbatasan-keterbatasannya. Ia akan merasa bebas untuk berbagi dirinya sendiri dan bukan sekedar berbagi gagasan dan nasihat. Ia akan mampu hidup dengan kecemasan-kecemasan sendiri serta menanggulangi amarah dan frustasi. Ia akan punya kebebasan seiring dengan kemampuan bagi  fleksibilitas, bagi adaptabilitas, bagi sikap mengikatkan diri terhadap aneka eksperimentasi dan perubahan. Ia akan tahu bagaimana melepaskan diri dari praktik tradisi yang dikeramatkan semata karena itu adalah “tradisional”. Pada saat yang sama, ia akan bebas dari kecandual kompulsif akan apa saja yang baru demi kebaruan itu sendiri. Ia akan memiliki ragam kebebasan yang mencul akibat menjadi seorang yang mahir sebagai administrator. Ia tidak akan terlena, menyimpang, atau terperangkap ke dalam seluk beluk bagaimana, bilamana, dan di mana sesuatu harus dikerjakan. Pendeta itu akan menjadi seseoorang yang kesadaran akan arah dan pendiriiannya menunjukkan suatu landasan yang menyeluruh dalam warisan iman yang alkitabiah dan teologis. Ia akan mempunyai kepekaan terhadap sifat, gagasan dan perasaan-perasaan yang luas. Ia adalah seorang pendengar dan pelajar yang selalu siap, sabar dan yang akan menghadapi konflik dengan kreatif. Dalam segala relasinya ia akan meyertakan suasana pastoral yang sungguh-sungguh, ditandai perhatian dan simpati sejati akan segala ragam tempramen dan pola nalar. Demikian himbauan bagi karunia-karunia (dan syarat-syarat) pelayanan kependetaan jauh melampaui unsur “keterampilan-keterampilannya”.

Urban T.Holmes dalam The Future Shap of Ministry memberikan argumentasi bahwa pendeta-iman harus serempak profesionnal dan “kharismatik”, institusional dan penuh dengan Roh.

Heri Nouwen dalam Creative Ministry sub judul buku tersebut ialah Beyond Professionalism. Profesionalisme dalam kasus ini mengacu kepada pelaksanaan asal-asalan akan tugas kependetaan-konseling mengikuti peraturan-peraturan tanpa perasaan turut menderita atau tanpa banyak wawasan; khotbah tanpa roh; pengajaran yang menceritakan informasi tanpa membangkitakn upaya belajar dan pengertian; pengelolaan tanpa membangkitkan semangat partisipasi; memimpin liturgi dengan cara “pokoknya ada serangkaian gerakan”. Melihat ini Nouwen berpendapat “menjadi pelayanan manakala pengajar melaju lebih jauh daripada sekedar mentransfer pengetahuan seraya bersedia mempersembahkan pengalaman hidupnya sendiri kepada para pelajar sedemikian rupa sehingga…wawasan baru yang membebsakan dan  pelajaran yang sejati dapat terselenggara. Dengan cara itu pulalah, dalam khhotbah, konseling, organisasi, kepemimpinan liturgis. Perlunya ada investasi kepedulian diri sang pendeta sebanding dengan yang dipaparkan guna melengkapi upaya berdasaarkan kompetensi.

Dengan demikian pemahaman diri selaku hamba Allah serta pemahaman akan bagaimana gereja harus melayani missio dei harus ada dalam kita. Pelayanan kependetaan bukanlah penugasan seperti yang berlaku pada seorang teknikus. Sebaliknya kita harus melandaskan pelayanan kita atas doa yang setia serta studi yang terarah kepada Allah, ditopang oleh pengalaman percakapan terus-menerus dengan dunia, dan di antara warga gereja dari segala alur dan tanggung jawab. Berhubung dengan perangkat kepedulian yang arahnya serba banyak, baik pelayanan kependetaan kita maupun kesaksian gereja, dapat diperbaharaui oleh anugerah Allah dalam Kristus Yesus.

Ya, pelayanan kependetaan adalah sebuah profesi. Ini juga sebuah karunia, sebuah pekerjaan, sebuah panggilan pelayanan. Dengan berpegang ppada beberapa ambivalensi ihwal istilah profesi, kita dapat bergerak menuju pemahaman yang lebih dalam tentang pekerjaan itu. Jadilah pendeta yang lebih baik bagi gereja dan juga menjadi pertolongan bagi orang lain dalam penggenapan panggilan mereka sendiri di dunia.

Resume ini memberkati saya dalam pemahaman lebih mendalam suatu profesi dan apa itu profesionalisme walaupun saya bukan seorang pendeta.

Sumber Buku : Tanggung Jawab Etis Pelayan Jemaat, Etika Pastoral (Gaylord Noyce). Bab. 11 halaman 183-195. Penerbit: BPK Gunung Mulia, cetakan ke-6 tahun 2011.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Takluk, dengar dan lakukan

Dalam teks Roma 10:16-21, Paulus memulai penjelasannya dengan pernyataan di ayat 16 “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu”. Jikalau kita bandingkan dengan ayat sebelumnya 14-15 dapat dilihat ada orang yang di utus untuk mengabarkan Injil itu tetapi ayat 16 Paulus menyatakan ternyata tidak semua juga menerima kabar baik itu, mengapa ?

Bagian yang menarik untuk di teliti adalah kata “menerima” yang dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata “υπηκουσαν ” yang memiliki arti patuh, taat, tunduk, mendengar, menyerahkan diri dan menerima. Pengertian dari kata-kata ini menunjukkan adanya kesesejajaran antara menerima dan patuh, taat, tunduk, mendengar dan menyerahkan diri. Mengapa bisa disimpulkan sejajar karena memang dibutuhkan kepatuhan, ketaatan, tunduk, mendengar dan penyerahan diri jikalau seseorang mau menerima sesuatu sebab jikalau sikap ini tidak  ada maka pasti tidak akan terjadi proses menerima tersebut.

Hal ini penting disampaikan Paulus mengapa Firman itu sudah disampaikan tetapi masih ada juga yang tidak menerima kabar baik itu penyebabnya karena kita tidak mau tunduk, taat, menyerahkan diri kita untuk mendengar dan menerima kabar baik itu. Ketika kita merasa kurang penting, tidak mau taat atau tunduk maka apapun yang diperintahkan pasti tidak akan dilaksanakan. Paulus menginginkan diri kita takluk, taat, tunduk, menyerahkan diri di hadapan Tuhan agar supaya kita siap mendengar apa yang diperintahkan. mengapa diperlukan sikap di atas karena iman muncul  dari pendengaran, jikalau kita tidak siap mendengar, tidak siap tunduk maka Firman yang kita dengan tidak akan bermanfaat dikarenakan kita sudah memasang “benteng” terlebih dahulu yakni tidak mau menerima/taat/tunduk.

Jikalau proses takluk ini tidak ada maka semua apa yang kita dengar (bandingkan ay.18) tidak ada gunanya, kita tidak akan menanggapinya (bandingkan ay.19) jika ini terjadi maka kita manusia yang hanya mendengar tetapi tidak menaklukan diri pada otoritas Firman akan menjadi orang yang kurang peka, buta mata rohaninya, hidup tidak bersyukur. Bahkan Allah telah berkenan di temui, Allah telah menampakkan dirinya, Allah telah mengulurkannya tetapi kita tidak menyadarinya (bandingkan ayat 20-21). Yang hanya kita lakukan adalah tidak taat dan membantah saja (ay.21) ini adalah akibat orang Kristen yang hanya mendengar tetapi tidak menaklukan dirinya kepada otoritas Kristus. Ketika tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, pikirkan, harapkan maka kita bersikap membangkang/tidak taat dan membantah.

Dengan demikian Paulus mau memberikan kunci untuk kita dalam melalui hidup sebagai orang percaya:

  1. Takluk, taat, tunduk, patuh, menyerahkan diri kepada otoritas Kristus sumber kabar baik itu. Atau dengan kata lain terjadi perubahan pola pikir dimana pola pikir kita di taklukan pada kuasa Firman Tuhan.
  2. Jika sudah takluk maka pasti kita akan selalu mendengar apa yang dikatakan firman tanpa membantah dan  bertindak tidak taat.
  3. Dengan demikian maka pasti kita akan melakukan Firman Kristus karena tindakan yang benar muncul dari pikiran yang dibenarkan oleh Kristus

Taklukan akal budimu pada otoritas Kristus (Roma 12:2) sehingga akan ada  ketaatan dalam menerima Firman Kristus yang akan menumbuhkan iman percaya sehingga setiap tindakan akan sesuai dengan Firman-Nya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Prepare your weapon

Ada hal menarik yang bisa kita temukan dalam pembacaan Efesus 6:10-20, secara umum dapat disimpulkan gencatan senjata tidak pernah terjadi antara manusia (orang yang percaya kepada Tuhan) dengan Setan. Untuk itulah Paulus mau mengingatkan kepada kita supaya terus waspada, mempersiapkan senjata dan jangan pernah takut berperang melawan Setan dan antek-anteknya.

Jikalau kita menggunakan jasa Lembaga Survey maka sebagai orang percaya pasti akan tercengang karena data yang ada akan memperlihatkan banyak orang percaya yang pergi berperang tidak membawa senjata dan perlengkapan perang lainnya sehingga sudah tentu pasti mereka akan kalah dan yang paling mengejutkan kemungkinan adalah banyak di antara orang Kristen tidak mengetahui siapa musuh mereka, apa strategi musuh mereka dan bagaimana cara mengalahkan mereka.

Berikut beberapa pengamatan yang dilakukan untuk mempersiapkan diri kita melawan musuh:

  1. Dalam Efesus 6:10, dimulai dengan pernyataan “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”, ayat pembuka ini mau menunjukkan bahwa dalam peperangan ini sumber kekuatan kita yang harus sangat diketahui adalah Tuhan Yesus, Ia punya kuasa yang bisa mengalahkan kuasa maut. Sebagai prajurit kita harus percaya dan mengetahui bahwa Jenderal Besar kita Tuhan Yesus mempunyai strategi yang baik dan mempunyai kuasa dan kekuatan untuk mengalahkan musuh, kita sebagai prajurit harus mengikuti strategi atau perintah yang diatur oleh-Nya sehingga menang perang, jikalau kita tidak mengikuti aturan main yang ada maka sudah tentu akan kalah. Banyak diantara kita orang percaya, prajurit-prajurit Kristus yang terkadang tidak mau taat mengikuti otoritas Tuhan Yesus sebagai pemimpin sehingga secara tidak langsung menunjukkan kita tidak mengakui kuasa-Nya. Jikalau prajurit sudah tidak mengakui kuasa/otoritas Jenderalnya, bagaimana mungkin mereka bisa taat dan setia mengikuti segalah perintah Sang Jenderal. Bagian ini diminta untuk kita kuat dalam Tuhan Yesus sang pemimpin kita, akui otoritasnya dan patuhi perintah-Nya dalam peperangan.
  2. Kenakan semua perlengkapan perang kita agar supaya kita bisa menang melawan musuh, pakaian perang harus lengkap agar supaya kita tidak kalah dan mengalami kesulitan dalam berperang nanti. Perlu diketahui jika sudah menggunakan perlengkapan perang maka perlengkapan perang ini harus menyesuikan dengan musuh, dengan demikian kenalilah musuh terlebih dahulu. Jikalu kita melihat dalan peperangan maka akan ada intel yang akan menyampikan bocoran strategi musuh, pemimpin perang harus menganalisa kekuatan dan kelemahan lawan dan harus menyampikan secara ditail kepada para prajurit yang akan berperang, ini berlaku dalam ayat 11-12. Apa perintah yang harus diperhatikan, IBLIS MUSUH KITA DAN STRATEGI-NYA TIPU MUSLIHAT, ini harus benar-benar diperhatikan oleh kita sebagai prajurit Kristus. Musuh kita licik, jikalau dia bisa menggunakan tipu muslihat berarti dia berada dekat dengan kita, sangat mengenali kita, mengetahui kelemahan-kelemahan kita. Musuh kita ingin menjerat kita dengan kelicikannya sehingga kita kalah. Dengan demikian jika kita  sudah tau apa strateginya maka kita harus mengetahui siapa mereka? dalam ayat 12 jelas disampaikan mereka adalah pemerintah-pemerintah (kekuasaan spiritual), penguasa-penguasa,  penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Dengan jelas Pemimpin kita mau menyampikan bahwa musuh kita itu adalah mereka yang berada dalam alam roh. Peperangan kita bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan mereka dalam roh. Disinilah tingkat kesulitan dalam peperangan ini, karena bukan dalam alam nyata tetapi dalam alam roh dimana jika kita tidak siap berperang Iblis akan sangat gampang menghancurkan kita. Tetapi pemimpin kita bukan pemimpin yang lemah dan tidak mempunyai strategi yang jelas, perhatikan bahkan Yesus Sang Jenderal ini sudah punya strategi dan punya senjata untuk mengantisipasi strategi iblis ini.
  3. Dalam ayat 13 di mulai dengan kata “ambillah seluruh perlengkapan Allah” dengan demikian dibutuhkan kecerdasan kita dan perhatian kita untuk mengambil semua perlengkapan dan jangan hanya setengah atau sebagian saja. Kesalahan besar jika kita tidak mengambil semua yang kita butuhkan untuk berperang. Ini kelemahan kita dimana saat berperang kita malas membawa senjata-senjata yang diperlukan sehingga akhirnya perlengkapan kita kurang. Apa saja perlengkapan  yang harus kita siapkan: perhatikan dalam Ayat 14, “tetaplah tegap”  perlengkapan pertama adalah dibutuhkan mental yang kuat dan pantang mundur dalam berperang, ini modal utama dalam berperang jikalau mental atau bisa dikatakan semangat juang tidak ada maka percuma saja.  Tetap tegap menunjukkan kita punya semangat dan keyakinan akan menang, ikat pinggang kebenaran atau memiliki pengetahuan tentang kebenaran, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, ikat pinggang berfungsi menahan celana/rok agar tidak melorot, ikat pinggang hanya akan menjadi penghias saja jikalau tidak dapat menahan celana/rok supaya tidak melorot. Pengetahuan akan kebenaran, mana yang benar dan mana yang tidak benar berfungsi supaya kita tidak dipermalukan dalam hidup ini, karena iblis mau menjatuhkan dan mempermalukan kita jikalau kita susah membedakan mana yang benar dan tidak ibarat celana/rok yang melorot di depan umum maka kita pasti malu. Milikilah pengetahuan tentang kebenaran, selalu berpikir tentang kebenaran maka engkau tidak akan dipermalukan oleh Iblis apapun tipu muslihatnya. berbajuzirahkan keadilan, baju zirah jikalau zaman sekarang bisa disamakan dengan rompi anti peluru yang akan melindungi bagian leher sampai pinggang kita, ketidakadilan sering digunakan oleh iblis sebagai cara iblis merusak dan menjatuhkan kita, selama berperang rompi ini harus terus digunakan artinya dalam hidup ini kita harus bersikap adil ini bisa muncul jikalau kita punya pengetahuan akan kebenaran. sehingga pengetahuan kebenaran ini menghasilkan tindakan keadilan. Kasut kerelaan memberitakan Injil, kasut/sepatu saat ini juga dibutuhkan dalam peperangan untuk melindungi kaki kita, bagian ini mau menggambarkan bahwa setiap kita harus juga punya kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, dalam segala hal menggunakan perisai iman, perisai/tameng digunakan untuk menangkal serangan lawan, mengapa harus menggunakan perisai iman karena Iblis selalu memakai tipu muslihat untuk melemahkan iman kita sehingga kita ragu dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita tidak mengandalkan Tuhan. Jika ini terjadi maka strategi Iblis berhasil, kita dikalahkan karena iman lemah. Ketopong keselamatan kalau saat ini helm untuk melindungi kepala kita, ketopong keselamatan mau memberikan gambaran bahwa kita harus mengalami pertobatan/perubahan pola pikir. Ketika manusia diselamatkan maka harus terjadi perubahan pola berpikir, berpikir karena sudah diselamatkan. Pikiran kita harus dilindungi dengan helm/ketopong agar supaya kita tidak terpengaruh dengan muslihat iblis. pedang roh yakni Firman Allah, yang disebutkan di atas adalah alat untuk mempertahankan diri ssedangkan pedang roh=Firman Allah adalah alat untuk menyerang sekaligus mempertahankan diri. Kita diharuskan menggunakan Firman setiap hari untuk melawan tipu daya si Iblis yang masuk lewat pikiran kita. Pedang kita harus diasah dengan selalu setia membaca Firman Tuhan dan selalu berdoa serta berjaga-jaga setiap saat.

Jikalau di simpulkan secara sederhana maka kita kalau mau berperang melawan Iblis harus pertama bersandar pada kekuatan Allah, mengenal strategi iblis(tipu daya), menggunakan perlengkapan perang dengan benar yakni memiliki tekad yang kuat, memiliki pengetahuan tentang kebenaran yang akan membuat kita bertindak adil sehingga kita mau memberitakan injil kepada siapa saja dengan iman yang teguh dan memiliki pengendalian diri dan pikiran yang benar dikarenakan ada Firman yang selalu mengingatkan kita dan selalu waspada dalam doa setiap waktu.

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Kunci

Hari ini dimulai dengan hujan bukan berarti hari kurang baik, saya bersyukur kepada Tuhan diberikan hujan untuk memulai hari ini. Sekitar lima bulan tidak pernah update blog ini, hari ini kenapa tidak memulainya lagi dengan komitemen yang baru untuk setia dan rutin update blog ini.

Kegiatan hari ini bersama istri tercinta mengikuti kegiatan seminar  OWNERSHIP SPIRIT and INTEGRITY MINISTRY  di GEPEMBRI Jemaat Tanjung dengan pembicara Pdm.Susie Widjaya. Pengajaran yang menarik dimana beliau memberikan kunci dalam pelayanan yakni:

  1. Harus memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan, sebagai Hamba Tuhan kita dituntut untuk dapat memiliki kepekaan rohani yang baik dengan menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan. Kita dituntut untuk memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan bandingkan Yesaya 50:4-5, Allah menginginkan kita mempertajam pendengaran kita tiap saat sehingga kita akan peka terhadap suara Tuhan karena Ia akan membukakan telinga kita. Hiduplah dalam relasi yang baik dengan Tuhan. Dia tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang sering meninggalkan Dia.
  2. Melayani harus memiliki tujuan. Jikalau seorang Hamba Tuhan melayani tanpa memiliki tujuan yang jelas maka akan mengakibatkan pelayanannya biasa-biasa saja, 1 Kor.9:23-27  Hamba Tuhan harus melayani dengan tujuan yang jelas, kita menguasai hidup kita dan terus memberitakan Injil.
  3. Keluarga harus menjadi berkat, keluarga tidak bisa dilepaskan dalam suatu pelyanan oleh sebab itu dibutuhkan kesatuan dan kebersaman dalam pelayanan. Keluarga harus bisa mendukung dan menjadi berkat oleh sebab itu ada syarat-syarat yang harus dimiliki sebagai seorang pemimpin rohani, bandingkan 1 Tim. 3:1-7.
  4. Hidup harus tidak bercela. Banyak Hamba Tuhan tidak berhasil dan tidak bisa mengembangkan pelayanan dengan maksimal dikarenakan mereka masih menyimpan dan melakukan dosa. Ini menjadi penekanan dan peringatan ulang kepada pelayan-pelayan untuk bisa memelihara kekudusan hidup. Allah tidak akan memberkati pelayanan kita jikalau kita tidak memelihara kekudusan hidup kita. harus terjadi pertobatan pola pikir tidak hanya bertobat secara emosional saja sebab melalui pertimbangan pemikiran maka lahirlah suuatu keputusan untuk bertindak. Kita harus membentuk pola pikir takut Tuhan=takut berbuat dosa sebab Tuhan akan menghakimi dan  menghukum kita sesuai dengan apa yang kita lakukan. Manusia memilih dosa karena kebodohan mereka yakni hidup dikuasai oleh hawa nafsu dan pengaruh pengajaran nenek moyang kita. Kuduslah kamu karena Aku kudus bandingkan 1 Pet.2:13-25.

Sangat diberkati dengan pengajaran ini, mengoreksi diri dan lebih meningkatkan kualitas hubungan pribadi dengan Tuhan dalam terus mengembangkan pelayanan yang dipercayakan.

Terlepas dari pengajaran-pengajaran dalam seminar tersebut memang ada beberapa yang sedikit berbeda dari persepsi yang saya miliki tetapi tidak perlu di permasalahkan karena “hanya sekedar kulit” pendekatan dan ekspresi manusia untuk berusaha lebih dekat dengan Tuhan adalah alami, masing-masing kita memiliki cara yang unik untuk mengenal dan dikenal Tuhan yang penting prinsipnya jangan diubah atau dimodifikasi. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman sebagai hasil pengamatan maka tentu akan mengubah persepsi seseorang dalam menafsirkan, memaknai, memberi nilai dan mengambil keputusan dalam melakukan tindakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Jesus’ teaching style

Mark 6:45-52

In the world of education, teaching styles have a form or a variety of methods. Sometimes adapted to natural conditions, tailored to the student, adjusted for the existing facilities and infrastructure, sometimes even adjusted to the target or goal of such teaching. Thus it can be seen in the world of education would have a variety of teaching styles.

In the existing text categorize my teaching style of Jesus with the term ABCD educate style (WATCH=AMATI, LET=BIARKAN, IGNORE=CUEKIN, COME=DATANGIN). Let us consider how Jesus taught his disciples.
Previously let’s pay attention to that era of teaching and learning styles are the disciples of Jesus should live and follow her teacher where to go (Mark 1:17-18), to learn from daily life, serve / prepare the needs of teachers and other students (including the followers of Jesus compare Mark 6:37 a). Learning style is very effective because the students follow the example of teachers and learning experience significantly (practice) not only in theory. Compare with science education submitted that if the percentage of students understand and practice the direct view will be very high. Apparently Jesus was know the way of teaching efficient and proper.

Let’s now how the style is meant to teach ABCD:
A: AMATI=WATCH
From the first part of a good teacher is a teacher who is able to observe the development and abilities of the students, what he observed? of these texts after Jesus told the disciples went first to the other side of Bethsaida (north)-Gennesaret (west) approximately mileage is between 25-30 km. Jesus’ disciples observing from afar, he was on top of the hill (ay.46) and watched from afar what the students are (ay.48). Please note the path in the Sea of ​​Galilee is the path that is very effective and very often passed by Jesus and his disciples, other than that the disciples were fishermen on Lake Galiela this so they’ve really mastered this region, the Sea of ​​Galilee has a length of 21 km and 11 km wide with Thus the extent of = 231 km ². The lake is surrounded by hills / mountains of Jordan, so the lake is often came headwind that can suddenly appear. Why did Jesus observe? because the actual event like this ever happened some time ago (Mark 4:35-41), thus Jesus wants to see the extent to which the first learning can be understood or not. It turned out that the disciples did not understand well. The observations are needed to measure how far a pupil to understand and experience an improvement in learning.

B: BIARKAN=LET
The process of omission does not mean loose and no attention at all, let it not escape the observation process is thus as if left to see how well students understand and want to try to practice their learning. Jesus deliberately let his disciples (cf. Ay.48 b. “At about 3 pm” We think Jesus prayed from 9-12 hours and the hours of 12-3 she watched and let the students struggle to row against the headwind. And indeed the students do not understand, in chapter four when Jesus was with them and they suppress hurricanes in do not understand is why this time he let them alone went to see if they can do themselves or still remind them of Jesus that has not helped them a few days of wind noisy.

C:CUEKIN=IGNORE
Why did Jesus try to ignore the disciples, from which we can see Jesus ignore them? Notice from verse 48 the end of a sentence which states “… and he will pass them”, this statement contains the element of premeditation, he deliberately passed them certainly is not the purpose of Jesus to His disciples. This was never done in the appearance of Jesus himself, together with students on their way to Emmaus (c.f.Luke 24: 28). The goal is to let the students call or conscious, he wanted to steal the attention of the disciples, when they were in trouble then the focus / attention they ought to Jesus, would not have been taught by Jesus when Jesus calms the storm event. Focus / attention to Jesus is the main thing, because when the students had turned his attention from his teacher so the students can not focus anymore. Cool here is actually a form of covert attention to what Jesus did because he seems to want to pass them.

D:DATANGI=COME
When the attention of students could eventually be stolen back then Jesus sent attend / go to them, when Jesus came so the headwind disappear, but it must be remembered that does not mean headwind on the lake of Galilee automatically disappear forever, not just at that moment but after that fixed it will come again that why students learn from this experience if there is headwind own but do not try to focus to Jesus

Application:
1. Being a teacher is a big responsibility (James 3:1, teachers are judged by a larger size)
2. Teachers must have a method of educating children in his students, one of which is used by Jesus is the way adult learning (Andragogy) where the disciples are those adults not kids anymore (pedagogy), and therefore good enough ABCD method practiced.
3. Jesus never leave / notice we never neglect her children, when we face the headwind in our lives, sometimes he allows us to row our own strength, so we sometimes will never get ahead and succeed. Jesus deliberately let it happen so we can learn from our life experience.
4. When we are still trying to rely on ourselves in headwind in our lives then that’s when Jesus wants us to realize to focus and rely on Him because Jesus only source of our life problem-solving.
5. When Jesus is present in the boat of our lives, our lives will through the problem, when we turned around and come to him and he will come and solve our problems
6. The interesting thing found in ay.50 word “Relax” The Greek language uses the word θαρσέω θαρσεΐτε from basic word meaning courage, be brave, or in a general sense of calm and delight grow your courage to face this problem because I AM JESUS ​​has come along with you.

Markus 6:45-52

Dalam dunia pendidikan, gaya mengajar memiliki bentuk atau metoda yang bermacam-macam. Terkadang disesuaikan dengan kondisi alam, disesuaikan dengan muridnya, disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada, bahkan terkadang disesuaikan dengan target/goal dari pengajar tersebut. Dengan demikian dapat dilhat dalam dunia pendidikan pasti terdapat berbagai macam gaya mengajar.

Dalam teks yang ada saya mengkatagorikan gaya mengajar Yesus dengan istilah gaya mendidik ABCD(AMATI,BIARKAN,CUEKIN,DATANGI). Mari kita memperhatikan bagaimana Yesus mengajar para murid-muridnya.
Sebelumya mari memperhatikan bahwa gaya belajar-mengajar zaman Yesus adalah para murid harus tinggal dan mengikuti kemana gurunya pergi (Markus 1:17-18), belajar dari kehidupan keseharian, melayani/mempersiapkan kebutuhan hidup guru dan murid-murid yang lain (termasuk para pengikut Yesus bandingkan Markus 6:37a). Gaya belajar ini sangat efektif karena para murid mengikuti teladan guru dan mengalami sendiri pembelajaran secara nyata (praktek langsung) tidak hanya dalam bentuk teori. Bandingkan dengan ilmu pendidikan disampaikan bahwa persentase mengertinya murid jikalau melihat dan mempraktekan langsung akan sangat tinggi. Ternyata Yesus sudah mengatahui cara mengajar yang efisien dan tepat.

Mari saat ini bagaimana Gaya mengajar ABCD yang dimaksud:
A:AMATI
Dari bagian pertama guru yang baik adalah guru yang mampu mengamati perkembangan dan kemampuan para murid-muridnya, apa yang diamati Yesus ? dari teks ini setelah Yesus menyuruh para murid berangkat lebih dahulu ke seberang dari Betsaida (sebelah utara)-Genesaret (sebelah barat) kurang lebih jarak tempuhnya antara 25-30 km. Yesus mengamati murid-muridnya dari jauh, ia berada di atas bukit (ay.46) dan memperhatikan dari jauh apa yang dilakukan para murid tersebut (ay.48). Perlu diperhatikan jalur di danau galilea ini adalah jalur yang sangat efektif dan sangat sering dilalui Yesus dan para murid, selain itu para murid adalah nelayan di Danau Galiela ini sehingga mereka sudah sangat menguasai wilayah ini, danau Galilea memiliki panjang 21 km dan lebar 11 km dengan demikian luasnya=231 km². Danau ini dikelilingi bukit/pegunungan Yordan sehingga danau ini sering datang angin sakal yang bisa tiba-tiba muncul. Mengapa Yesus mengamati ? karena sebenarnya peristiwa seperti ini pernah terjadi beberapa waktu yang lalu (Markus 4:35-41), dengan demikian Yesus ingin melihat sejauh mana pembelajaran pertama tersebut bisa dipahami atau tidak. Ternyata memang para murid belum paham juga. Pengamatan memang diperlukan untuk mengukur seberapa jauh seorang murid memahami dan mengalami perkembangan dalam pembelajarannya.

B:BIARKAN
Proses pembiaran bukan berarti lepas dan tidak ada perhatian sama sekali, dibiarkan ini tidak lepas dari proses pengamatan dengan demikian ini seolah-olah dibiarkan untuk melihat seberapa jauh murid mengerti dan mau berusaha mempraktekan pembelajaran mereka. Yesus sengaja membiarkan para muridnya (bnd. Ay.48 b. “Kira-kira jam 3 malam” kita anggap Yesus berdoa dari jam 9-12 dan dari jam 12-3 dia mengamati dan membiarkan para murid berjuang mendayung melawan angin sakal. Dan memang para murid belum paham, di pasal empat ketika Yesus bersama mereka dan angin ribut di redakan mereka belum paham itulah sebabnya saat ini Yesus membiarkan mereka sendiri berangkat untuk melihat apakah mereka bisa melakukan sendiri atau masih ingatkan mereka akan Yesus yang belum beberapa hari menolong mereka dari angin ribut.

C:CUEKIN
Mengapa Yesus mencoba cuekin para murid, dari mana kita bisa melihat Yesus cuekin mereka ? Perhatikan dari ayat 48 bagian akhir ada kalimat yang menyatakan “…dan Ia hendak melewati mereka”, pernyataan ini mengandung unsur kesengajaan, Yesus sengaja melewati mereka bukankah tujuan Yesus pasti kepada murid-murid-Nya. Hal ini pernah dilakukan Yesus dalam penampakan dirinya bersama dengan murid dalam perjalanan ke Emaus (bnd.Luk.24:28). Tujuannya untuk supaya para murid memanggil atau sadar, Yesus ingin mencuri perhatian para murid, pada saat mereka mengalami kesusahan maka fokus/perhatian mereka seharusnya kepada Yesus, bukankah ini sudah diajarkan Yesus waktu peristiwa Yesus meredakan angin ribut. Fokus/perhatian kepada Yesus adalah hal yang utama, sebab ketika para murid sudah mengalihkan perhatiannya dari gurunya maka para murid tidak bisa fokus lagi. Cuek disini sebenarnya wujud perhatian terselubung yang dilakukan Yesus karena Ia seolah-olah ingin melewati mereka.

D:DATANGI
Ketika perhatian murid akhirnya bisa dicuri kembali maka Yesuspun hadir/mendatangi mereka, ketika Yesus datang maka anginpun redah, tapi harus diingat bukan berarti angin sakal di danau Galilea otomatis hilang selamanya, tidak pada saat itu saja redah tetapi setelah itu tetap akan datang angin sakal yang lain tetapi tinggal bagaimana para murid belajar dari pengalaman ini kalau ada angin sakal jangan berusaha sendiri tetapi fokuslah kepada Yesus

Aplikasi:
1. Menjadi guru adalah suatu tanggung jawab yang besar (Yakobus 3:1, guru dihakimi menurut ukuran yang lebih besar)
2. Guru harus memiliki metoda dalam mendidik anak muridnya, salah satu yang digunakan oleh Yesus adalah cara belajar orang dewasa (Andragogi) dimana para murid adalah orng dewasa bukan anak-anak lagi (pedagogi), oleh sebab itu metode ABCD cukup baik dipraktekan.
3. Yesus tidak pernah meninggalkan/tidak pernah lalai memperhatikan kita anak-anaknya, ketika kita menghadapi angin sakal dalam hidup kita, terkadang Yesus mengizinkan kita mendayung dengan kekuatan kita sendiri, sehingga kita terkadang tidak akan pernah bisa maju dan berhasil. Yesus sengaja membiarkan itu terjadi supaya kita bisa belajar dari pengalaman hidup kita.
4. Ketika kita masih berusaha mengandalkan diri kita sendiri dalam mengalakan angin sakal dalam hidup kita maka pada saat itulah Yesus menginginkan kita sadar untukkembali fokus dan bersandar kepada-Nya karena hanya Yesus sumber pemecahan masalah hidup kita.
5. Ketika Yesus hadir dalam perahu hidup kita maka, masalah hidup kita akan redah, ketika kita berpaling dan berseruk kepadanya maka Ia akan datang dan menyelesaikan masalah kita
6. Hal yang menarik ditemukan dalam ay.50 kata “Tenanglah” bahasa Yunani menggunakan kata θαρσεΐτε dari kata dasar θαρσέω yang berarti keberanian, beranilah, cerialah atau dalam arti umum tenanglah dan bergembira tumbuhkan keberanianmu menghadapi masalah ini karena AKU YESUS sudah datang bersama dengan engkau.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Kristologi Non-Apologetis

Kristologi Non-Apologetis

Istilah ini baru pertama kali saya dengar dan tidak ditemukan waktu saya kuliah dulu, saya membaca topik ini dari tulisan Darwin Lumban Tobing, D.Th (dosen dogmatika STT HKBP) di buku Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia, Buku penghormatan 70 tahun Prof.Dr.Sularso Sopater, terbitan BPK-Gunung Mulia tahun 2004. Saya sangat tertarik membaca tulisan ini karena membuka wawasan saya dalam Kristologi. Kristologi Non-Apologetis intinya tentang bagaimana memaparkan Kristologi Hermeneutis di dalam konteks Postmodern. Diskusi kristologi saat ini didasari dari bagaimana kita memahami kristologi dengan menggunakan pemahaman filosofis-ontologis. Jika kita membangun pemahaman Kristologi yang dilihat secara filosofis-ontologis maka pasti kita harus berusaha mencari jawabannya secara epistemologis, yaitu mencari tahu proses terjadinya sesuatu dengan mengurut dan menganalisa sehingga istilah-istilah yang dipakai menurut Darwin Lumban Tobing pasti berbicara soal hakikat, substansi, pribadi dan persona menjadi istilah yang sangat populer dalam diskusi kristologi. Para teolog yang mencari pemahaman tentang Yesus secara ontologis persis seperti seorang dokter patholog yang ingin mengetahui serat-serat organ tubuh manusia. Dari diskusi kristologi ontologis ini lahir pengakuan gereja bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pemahaman ini kemudian menjadi pengakuan gereja, diimani dan dipertahankan secara apologetis. Kita harus mengakui bahwa pengakuan iman apologetis ini adalah “benteng pertahanan” gereja di dalam menunjukkan identitasnya sehingga ini diwariskan dari Gereja Barat ke Gereja Timur (termasuk kita saat ini mewarisinya sadar atau tidak). Pengakuan iman apologetis ini membuat kemurnian pemahaman Injil dan pengakuan yang rasuli terhadap Yesus Kristus tetap terpelihara namun ekses negatifnya, sikap gereja menjadi eksklusif. Darwin L.T menyatakan konsepsi keselamatan yang semula theosentris menjadi kristosentris, bahkan akhirnya menjadi ekkleosentris. Gereja akhirnya menjadi kaku dalam formula dogmatisnya dan sulit membuka diri untuk dimengerti oleh orang lain padahal seharusnya dalam konteks kristologi harus fides quaerens intellectum yaitu iman yang dapat dipahami secara intelektual atau iman memberikan pemahaman pada pemikiran intelektual. Dengan latar belakang ini lahir gagasan Kristologi Non-Apologetis yang diorientasikan pada konteks masa kini. Unsur-unsur penyangga dari gagasan ini adalah:

  1. Bahasa dan teologi bahasan, fungsi bahasa adalah sebagai kendaraan untuk membawa, menjelaskan dan memberitahukan suatu ide kepada orang lain, atau dari masa lalu ke masa kini. Selain itu fungsi bahasa sebagai alat untuk menjelaskan dan menjabarkan suatu pemahaman. Dengan demikian bahawa bukan hanya menjadi ekspresi pemahaman tetapi akhirnya turut membentuk ide, opini dan pemahaman manusia. Dalam kadar ini muncul bahasa dalam bidang-bidang tertentu seperti bahasa teologi, bahasa kedokteran, bahasa hukum, bahasa pertanian dan lain sebagainya. Bahasan harus dipahami sesuai dengan konteks pemakaian bahasa tersebut. Bahasa teologi harus dipahami dalam konteks teologi, istilah seperti Anak Allah(di tujukan kepada Yesus) atau anak Allah (ditujukan kepada orang percaya) yang secara bahasa teologi menekankan kesetiaan dan kepatuhan kepada Allah, tetapi ini akan menjadi salah jikalau diartikan dalam konteks geneologis. Selain ini harus disadari bahwa bahasa mempunyai keteratasan makna, apa yang dirumuskan di dalam dan melalui bahasa selalu merupakan penyempitan dari ide atau pemahaman. Karena keterbatasan ini maka bahasa menggunakan gambar, metafor, jargon, istilah atau terminiologi tertentu untuk menjelaskan sesuatu. Salah satu contoh yakni semua agama mempercayai bahwa Tuhan itu ada dan masing-masing agama ini mempunyai sebutan, metafor tentang Tuhan sesuai dengan pegenalan dan perjumpaan rohani dengan Tuhan, dengan demikian keberadaan dan penamaanNya selalu dipengaruhi dan berhubungan langsung dengan pengalaman manusia, inilah yang melahirkan sebutan-sebutan seperti Maha Esa, Maha Kuasa, Allah Bapa, dan lain-lain. Sallie McFague menyatakan ada dua hal yang perlu diwaspadai dalam pemakaian bahasa agama atau bahasa teologi sebagaimana terdapat dalam teks Alkitab dan formula-formula dogmatis. Pertama, jangan sampai bahasa teologi menjadi the idolarity of religious language-pemberhalaan bahasa keagamaan. Kedua, jangan menjadi the irrelevance of religious language-bahasa agama yang tidak relevan. Bahasa agama sangat kuat membentuk opini dan pemahaman tentang Allah danhal lain yang berhubungan dengan iman. Seperti kaum fundamentalis kata Tuhan atau YAHWE sebagai proper name dan Elohim sebagai generic name tidak boleh digani dengan sebutan Kurios, Theos, Allah, Debata, Jubata dan lain-lain. Menurut McFague contoh ini menunjukkan bagaimana kaum fundamentalis sedang memberhalakan Alkitab melalui bahasanya karena tidak perlu ditafsirkan lagi sebab pemahaman dan makna sudah sempurna sebagaimana ada dalam teks.
  2. Hermeneutik dalam Kristologi, faktor yang mendorong manusia memakai bahasa adalah kebutuhan hermeneutik, tugas menafsirkan adalah penting karena kita adalah homo sapiens (manusia yang berpikir) dengan demikian perumusan kristologi tidak lepas dari tindakan dan upaya hermeneutik. Semua penjelasan teologis yang diberikan selalu dimaksudkan agar berita, makna dan pemahaman itu dapat dipahami oleh pemakai bahasa dengan demikian apabila ada suatu bahasa teologi yang sulit dipahami dan justru membingungkan dan memungkinkan untuk disalahpahami, itu pertanda perlu direformulasikan sesuai dengan maksud dan tujuan hermeneutik. Dalam konteks kristologi sangat mungkin banyak istilah, metafora, gambaran yang membingungkan atau sulit dipahami. Mungkin pada waktu tertentu, suatu istilah mudah dan dapat dimengerti karena makna yang terkandung tersebut familier dengan kehidupan masyarakat waktu itu atau mungkin karena pola pikir manusia yang dapat menerima begitu saja apa yang dirumuskan. Namun dalam pola pikir saat ini, baik modern atau post-modern banyak istilah teologis yang harus dijelaskan dan direformulasikan sesuai dengan konteks dan pola hidup/pola pemikiran masyarakat saat ini.
  3. Postmodern sebagai konteks Kristologi, postmodernisme sering disifatkan dengan destruktif, pembongkaran, penolakan terhadap warisan/nilai, namun ketika postmodernisme berhadapan dan berada di tengah-tengah realitas kepelbagaian maka ia cenderung rekonstruktif, membangun nilai-nilai baru berdasarkan realitas yang ada. Oleh karena itu pola berpikir postmodern itu dapat membantu upaya berteologi yang relevan dan aktual. Oleh karen itu dalam konteks kehidupan masa kini, gereja harus berupaya merevisi ulang formula teologi yang ada. Revisi bukan sebagai penjungkir-balikan makna tetapi untuk membebaskan diri dari keterikatan warisan teologi yang tidak relevan.

Dengan dasar berpikir postmodern maka disadari pemikiran kristologi apologetis(yang kita warisi) sangat tidak aktual karena kurang terbuka terhadap dialog. Gambar-gambar Yesus yang diperkenalkan untuk tujuan apologetis harus disusun kembali secara non-apologetis sehingga dapat dengan mudah dipahami orang. Kristologi non-apologetis harus dapat mengajak orang lain, pandangan yang berbeda, untuk didengar, diajak berdiskusi dan berdialog dengan tujuan agar kristologi yang dipahami dapat juga dipahami orang lain. Gagasan ini juga bukan berarti mengabaikan apologia dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi sikap apologetika itu baik, karena menjadikan gereja sebagai individu mau bersaksi sebagai wujud pertanggung jawaban dan pengharapannya tentang imannya (1 Pet.3:15). Akan tetapi pada sisi lain sifat apologetis kurang efisien karena terkesan hanya mengulang-ulang pengakuan iman dan pegalaman orang lain di masa lalu dan  kurang berdialog. Dalam mengatasi kelemahan itulah dibuat gagasan kristologi non-apologetis. Apabila kristologi apologetis di dasarkan kepada pemahaman tentang Yesus Kristus secara ontologis, maka dalam Kristologi Non-Apologetis pemahaman ontologis itu akan ditinggalkan. Kristologi Non-Apologetis dibangun di atas kristologi fungsional, yaitu dari pemahaman makna kehidupan, ucapan, perbuatan, penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kristologi non-apologetis menjelaskan kesiapan Yesus secara fungsional dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu atribut pengenalan Kristus bukan figur personal,melainkan karya keselamatan yang diperbuat-Nya. Istilah kasih, penyelamatan, penebusan sangat dominan dalam menjelaskan kesiapan Yesus dan ini lebih dipahami dibandingkan dengan gambaran figuratif personal Yesus seperti Raja, Anak Allah, Anak Manusia dan lain-lain. Titik tolak Kristologi Non-Apologetis didasarkan dalam Lukas 9:18-20, Yohanes 4:42, Filipi 2:5-7. Dengan demikian Kristologi Non-Apologetis yng digambarkan di atas adalah upaya berteologi di dalam konteks Asia yang disampaikan dengan makna fungsional kristologis seperti yang dipaparkan oleh beberapa teolog Asia yakni Kosuke Koyama dan Choan Seng Song.

 

 

Non-apologetic christology

This term was first time I heard and can not find my time in college, I read this topic from the writings of Darwin Lumban Tobing, D. Th (lecturer dogmatics at STT HKBP) in the book Contextualization dogmatics Thought in Indonesia, Book 70-year tribute Prof.Dr. Sularso Sopater, published by BPK Gunung Mulia, 2004. I am very interested in reading this article because it opened my horizons in Christology. Non-apologetic christology essentially about how to expose Hermeneutical Christology in the context of the postmodern. Discussion christology currently constituted of how we understand the Christology by using philosophical-ontological understanding. If we build an understanding of Christology that seen in philosophical-ontological then surely we must try to find the answer is epistemological, ie find out the occurrence of something with sort and analyze so that the terms used by Darwin Lumban Tobing certainly talk about the nature, substance, personal and persona becomes a very popular term in the discussion of Christology. The theologians who seek an understanding of Jesus ontologically patholog just like a doctor who wants to find out the fibers in human organs. From these discussions was born the recognition of ontological Christology church that Jesus is the Son of God. This understanding then becomes the recognition of the church, believed and maintained in apologetics. We must admit that the confession of faith apologetics is “fortress” in the church to show his identity so that it inherited from the Western Church to the Church of the East (including our current inherit it consciously or not). Confession of faith apologetics makes purity understanding and recognition of the apostolic gospel of Jesus Christ to be maintained but the excesses of the negative, the church became an exclusive attitude. Darwin LT states that the original conception of salvation theosentris be christocentric, even eventually become ekkleosentris. The Church eventually become dogmatic and rigid in the formula is difficult to open ourselves to be understood by others when they should be in the context of Christology must fides quaerens intellectum a faith that can be understood intellectually or faith provide an understanding on intellectual thought. With this background the idea was born Non-Christology apologetics oriented in the present context. Buffer elements of this idea are:
1. Language and theological discussion, the function of language is a vehicle to carry, explain and inform an idea to others, or from the past into the present. In addition, the function of language as a tool to explain and describe an understanding. Thus not only be an expression that unlicensed understanding but ultimately helped shape the ideas, opinions and human understanding. In this level of language appears in certain fields such as theology, language, medical language, legal language, agriculture and other languages. The discussion must be understood according to the context of language usage. Theological language must be understood in the context of theology, the term as the Son of God (in addressed to Jesus) or a child of God (addressed to the believer) who is the language of theology emphasized loyalty and obedience to God, but it will be wrong if interpreted in the context geneologis. In addition to this must be realized that the language has keteratasan meaning, what is formulated in and through language is always a refinement of ideas or understanding. Because of this limitation, the language using images, metaphors, jargon, terms or certain terminiologi to explain something. One example that all religions believe that God exists and each religion has a title, a metaphor of the Lord according to pegenalan and spiritual encounter with God, thus the existence and penamaanNya always influenced by and relate directly to human experience, this is what gave birth to the term -designation as Almighty, Almighty, God the Father, and others. Sallie McFague states there are two things to watch out for the use of religious language or the language of theology, as found in biblical texts and dogmatic formulas. First, do not let the language of theology into the idolarity of religious language-idolatry of religious language. Second, do not become the irrelevance of religious language-the language of religion that is not relevant. Religion is very strong language to form an opinion and understanding of God’s other danhal associated with faith. Like the fundamentalists as the word of God or Yahweh Elohim as a proper name and generic name should not be digani with the title kurios, Theos, God, Debata, Jubata and others. According to McFague this example shows how the fundamentalists are idolize the Bible through the language because it does not need to be interpreted again for understanding and meaning is perfect as there is in the text.
2. Hermeneutics of Christology, the factors that encourage people to use language is the need for hermeneutics, the task of interpreting is important because we are homo sapiens (human thinking) with the formulation of Christology thus can not be separated from the actions and efforts hermeneutics. All theological explanation given is always intended for news, meaning and understanding that can be understood by language users so if there is a language of theology, difficult and even confusing and allows to be misunderstood, that’s a necessary direformulasikan accordance with the intent and purpose of hermeneutics. In the context of Christology is probably a lot of idioms, metaphors, images are confusing or difficult to understand. Maybe at a certain time, a simple and understandable terms because the meaning is familiar with the life of society at that time or maybe because of the human mind can take it for granted that what is formulated. But in the current mindset, whether modern or postmodern many theological terms that must be explained and direformulasikan according to the context and patterns of living / thinking patterns of today’s society.
3. Postmodern as the context of Christology, postmodernism is often characterized by destructive, dismantling, rejection of the heritage / values, but when postmodernism dealing and was in the midst of the reality of diversity it tends reconstructive, build new values ​​based on current realities. Therefore, patterns of thinking that postmodern theology can help the efforts of relevant and current. By Karen was in the context of contemporary life, the church should seek to revise the existing re-formulation of theology. Revision is not a reversal, meaning penjungkir but to liberate ourselves from the bondage of theology that is not relevant heritage.
On the basis of the unconscious mind thinks postmodern Christology apologetics (which we inherited) are not actual because less open to dialogue. The images of Jesus that was introduced for the purpose of apologetics should be rearranged in a non-apologetic so that people can easily understand. Non-apologetic christology must be able to invite other people, different views, to be heard, encouraged discussion and dialogue with the aim that Christology is understood to also understand other people. This idea also does not mean ignoring the apologia in everyday life. On the one hand the attitude of apologetics is good, because it makes the church as individuals willing to testify as a form of accountability and expectations about his faith (1 Pet.3: 15). However, on the other hand is less efficient because of the nature of apologetics impressed just repeating pegalaman confession of faith and other people in the past and less dialogue. In addressing the weaknesses that made the idea of ​​non-apologetic christology. If Christology apologetics is based on an understanding of Jesus Christ ontologically, then in the non-apologetic Christology ontological understanding it would be abandoned. Non-apologetic christology built on functional Christology, that of understanding the meaning of life, words, deeds, sufferings, death and resurrection of Jesus. Non-apologetic christology explain the readiness of Jesus is functionally in human life. Therefore attribute the introduction of Christ was not a personal figure, but the work is done Him salvation. The term love, salvation, redemption is very dominant in explaining the readiness of Jesus and is more understandable than the personal figurative description of Jesus as King, Son of God, the Son of Man and others. The starting point of Christology Non-apologetic based on Luke 9:18-20, John 4:42, Philippians 2:5-7. Thus the non-apologetic Christology yng described above is an attempt at doing theology in the Asian context presented with functional significance christological as described by some theologians Asia: Kosuke Koyama and Choan Seng Song.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Kepangkatan dosen

wah hari ini wawasan tambah dibuka ni, banyak hal yang di dapat trims u Pengurus PERSEKUTUAN SEKOLAH TEOLOGI INJIL (PSTI) KALIMANTAN BARAT yang sudah memfasilitasi kegiatan PELATIHAN KEPANGKATAN DOSEN, so setelah ini harus kembali n mulai searching file-file lama untuk siapin portofolio, memang terkesan di terlambat untuk kalangan Kristen, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali khan….ada istilah yang kocak juga di dapat dalam pertemuan ini:

  1. 3S= Sakit, Stroke, Stop
  2. DOSEN= Kerja se DOS, gaji se SEN…heheheh.

acara dilaksanakan di Aula GKKB Pontianak, antusiasme peserta sangat tinggi karena ini hal yang cukup baru bagi dosen-dosen STT Se-kalbar, terutama soal hitung-menghitung angka kredit untuk menentujan jabatan kita. Acara ini sangat diperlukan dan saya memberikan apresiasi yang sangat besar untuk pengurus PSTI Kal-Bar, semoga banyak hal lagi yang bisa dibuat untuk kemajuan STT di KALBAR.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

PERASAAN vs PEMIKIRAN KRITIS

Setiap manusia pasti memiliki perasaan dan pemikiran kritis…betul ?…..ups benar…maksudnya….karena benar beda dengan betul…

Nah dalam kehidupan setiap hari pasti kita akan diperhadapkan dengan yang namanya pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah, mengapa terkadang kita salah/susah mengambil keputusan dan tidak bisa menyelesaikan masalah yang mungkin hanya sepele. Dalam pengalaman saya dan melihat pengalaman orang lain maka sudah sangat pasti setiap individu itu suatu ketika pasti akan berada pada titik tidak puas, kecewa dan tidak setuju. Nah kalau diperhadapkan dengan kondisi ini maka terkadang orang yang menghadapi masalah tersebut selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan PERASAAN yang porsinya lebih besar dibandingkan dengan pertimbangan PEMIKIRAN KRITIS atau sebaliknya.

Memang ada beberapa buku yang saya pernah baca mengatakan perempuan lebih menggunakan pertimbangan perasaan dibandingkan dengan pria jikalau menghadai masalah, tapi ternya pernyataan ini tidak benar 100%. PERASAAN dalam ilmu psikologi di definisikan psikologi kata ini sering diartikan untuk pengalaman subjektif sadar mengenai emosi. Perasaan juga dikenal sebagai keadaan sadar, seperti yang dihasilkan dari emosi, sentimen atau keinginan. Perasaan dapat diartikan berbeda dengan emosi dalam pengerti emosi bersifat universal. Sementara perasaan adalah respon yang dipelajari tentang sebuah keadaan emosi di lingkungan atau kebudayaan tertentu

PEMIKIRAN KRITIS adalah cara berpikir yang menggunakan pertimbangan analisa, evaluasi, pertimbangan untuk mengambil keputusan atau pemikiran kritis adalah proses analisis atau evaluasi dari informasi, atau sebagian pernyataan atau usulan yang di tawarkan orang sebagai kebenaran. Ini membentuk suatu proses dalam merefleksikan suatu pengertian dari pernyataan, pengujian atas fakta yang ditawarkan, pemahaman dan penilaian akan fakta”

Karatkeristik dari pemikiran kritis adalah:

  1. Jelas
  2. Tepat
  3. Ketelitian
  4. Relevansi
  5. Dalam
  6. Luas
  7. Logis
  8. Adil

Pemikiran kritis diperlukan dalam pengambilan keputusan akan setiap masalah kita dan dalam setiap keputusan untuk pemecahan masalah.

Perasaan sangat diperlukan, pemikiran kritis juga sangat diperlukan. Kedua pertimbangan ini memang diperlukan dalam menjalani hidup ini tetapi diperlukan kejelian bagi kita untuk menempatkan mereka pada porsi yang tepat dan tidak berlebihan.

Mari kita berandai-andai jikalu produk hukum kita dibuat berdasarkan perasaan atau  sebaliknya lebih banyak menggunakan pertimbangan kritis sampai meninggalkan rasa prikemanusiaan(unsur perasaan) dari sekelompok orang, individu, ormas atau kelompok politik. Bukankah akan keluar PP, UU, Kepres, Kepmen yang sifatnya subjektif dan merugikan banyak orang bahkan akhirnya bersifat anarkis.

Dengan demikian diperlukan keseimbangan pengambilan keputusan dengan memperhatikan pemikiran kritis dan perasaan.  Ini adalah produk pendewasaan dan pembelajaran yang Tuhan berikan pada kita dalam melalui hari-hari ini. Kapan ini akan tercipta, saat anda dan saya sudah menjadi dewasa baik secara fisik, pemikiran dan kerohanian. Harapan ini akan membawa kita kepada kehidupan yang selalu bersyukur dan menikmati hidup yang Tuhan percayakan.

So…perlukah PERASAAN vs PEMIKIRAN KRITIS…..?

saatnya ciptakan keseimbangan antara PERASAAN dan PEMIKIRAN KRITIS  dalam pengambilan keputusan dan pemecahanmasalah hidupmu, jangan buat mereka menjadi lawan tanding.

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

Why QT ta’ bisa TaaT?

Memang bicara soal menjadi taat itu berat dan jadi pergumulan sebagian orang , taat pada pimpinan, taat sama perintah agama, taat sama aturan n banyak lagi. Ada istilah yang menarik yang diberitahukan oleh dosen saya dulu waktu kuliah, beliau bilang TAAT artinya Tidak Ada Alasan Titik, heheheh…benar juga tu..kalo mo taat khan nda boleh banyak alasan. So apa alasan orang nda mau taat:

  1. Ngapain taat to, yang nyuruh juga nda mau taat, heheheh…so dia mau taat kalo yang nyuruhnya taat juga. tipe orang seperti ini belum dikategorikan dewasa,  sukanya niru n ikut-ikutan aja
  2. Keras kepala, karena menurut pendapat pribadinya dia itu benar so ngapain ngikutin perintah orang lain.
  3. Tidak bisa kuasai diri/mengontrol diri makanya tidak bisa taat.
  4. Karena mau tampil beda…haahhaa salah skali…
  5. Mau buktikan sesuatu (orangnya nda mau rendah hati)…somsenya tinggi….
  6. Merasa betah dengan tingkahlakunya ini…(nda sadar diri…..)
  7. Tersinggung setelah baca tulisan ini….”hui yang nulis soq tau ini…..” (kata si pembaca yg nda mau TAAT)

Akibat orang yang tidak mau taat adalah:

  1. Tidak akan pernah berhasil dalam melakukan sesuatu
  2. Selalu cepat putus asa
  3. Dibenci orang
  4. Somsenya makin kambuh
  5. Egois
  6. Merasa diri paling pinter suda…..
  7. Kalo nda taat nanti masuk neraka heheheheh (hubungannya dengan aturan agama)
  8. Menutup blog ini dengan perasaan kesal n ngedumel

so belajarlah untuk TAAT  kalo nda mau taat nanti akibatnya kaya gitu…..eitsss ini hanya boleh dibaca untuk orang dewasa yang mau mengubah prilakunya dan yang TAAT….TIDAK ADA ALASAN TITIK….tapi….eits…inga…inga…TITIK nda ada alasan

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under life is

2day

Tadi pagi ke gereja di GEPEMBRI P.Sembuat, hujan pagi-pagi cuaca membuat badan malas bergerak, sempat ngantuk berat juga untung Pdt.nya semangat dikit khotbahnya kalo nda wah bisa KO di t4….tapi karena memamang cuaca sejuk akhirnya pas pulang langsung baring tidur de sampe jam 4 sore memang pules, bangun makan siang/sore (tadi siang kaga sempat makan langsung tidur)…setelah itu nonton sebentar di Kick Andy baru de ke warnet(modem masi di pesan heheheh maklum sedikit ndeso nie…lewat Hp juga ribet nda puas) buka email, FB n coba yg namanya koprol, JSnya Indo….yah biasa-biasa aja…n peminatnya masih dikit ato memang mungkin belum dikenal kali ya, nanti hari selasa n rabu bawah ceramah n talkshow tentang pendidikan n tentang teknologi, so beberapa hari ini lagi cari data banyak, wah memang lumayan berat walaupun pendengarnya pemuda n remaja, waktu persiapan lumayan mepet karena yg topik tentang pendidikan baru dihubungi mendadak gantiin orang lain (*&^%%$##@)… memang materi 2 ini sudah pernah dibawaain ya tinggal ngutak-ngatik sedikit aja. Selain persiapan ini memang kerjaan kantor yang lain lumayan banyak, mana harus masukin data untuk EPSBED sebelum lebaran ini, setelah itu revisi bahan ajar untuk 2 mata kuliah wah lumayan juga…untunglah sekarag untuk prodi Teologia uda ada ketua prodinya so nda terlalu repot lagi sehingga kerjaan bisa dibagi-bagi, jadi mulai besk kerjaan padat selama seminggu, harus berhikmat bagi waktu n tidak tunda-tunda pekerjaan….basmi penyakit M…ALAS…

2 Komentar

Filed under life is